4 Bagaimana Penerapan Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan? | IndiHome
2 NOV 2022        BLOG

4 Bagaimana Penerapan Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan?

Seperti yang kita tahu bahwa Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia. Artinya, Pancasila sudah menjadi dasar dari berbagai norma dalam setiap penyelenggaraan urusan negara.  Namun, menerapkan Pancasila sebagai dasar negara pada masa awal kemerdekaan tidak semudah yang dipikirkan.

Banyak pahlawan yang rela berkorban demi menjadikan 5 sila tersebut sebagai pegangan seluruh masyarakat. Lantas, bagaimana penerapan Pancasila sebagai dasar negara pada masa awal kemerdekaan Indonesia? Simak penjelasannya berikut ini!


Perjuangan Pahlawan dalam Menerapkan Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang terdiri dari 5 sila atau asas/prinsip. Dalam pembukaan UUD 1945, kedudukan Pancasila menjadi sumber tertib hukum tertinggi yang mengatur kehidupan masyarakat dan negara.

Penerapan Pancasila pada masa awal kemerdekaan penuh dengan perjuangan. Karena pada waktu itu masih ada berbagai penyimpangan untuk menghadang tegaknya 5 sila sebagai dasar negara. Misalnya saja pada tahun 1945-1950, banyak pemberontak yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain atas nama keadilan bangsa.


Berbagai Pemberontakan di Awal Penerapan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Adapun contoh gerakan pemberontak tersebut, yaitu:

  • Pemberontakan PKI pada tanggal 18 September 1948 di Madiun yang terjadi selama 3 bulan. Tujuannya untuk mendirikan Negara Soviet Indonesia berideologi komunis. Pemberontakan ini menewaskan dua perwira serta menyisakan empat orang lainnya yang terluka.
  • Pemberontakan DI/TII pada tahun 1949 untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Tujuannya untuk mengganti Pancasila dengan dasar Islam.
  • Peristiwa kudeta militer besar-besaran oleh Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung. Pemberontakan APRA tercetus pada tanggal 23 Januari 1950.  

Selanjutnya di tahun 1950—1959, Pancasila sudah ditetapkan menjadi dasar negara. Tetapi, rumusan Sila ke-4 tidak dilakukan secara voting. Akibatnya masyarakat yang tidak setuju dengan lahirnya Pancasila kembali melayangkan protes. Hal ini ditandai dengan munculnya gerakan pemberontak Republik Maluku Selatan (RMS), Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA).

Bagaimana penerapan Pancasila pada masa awal kemerdekaan oleh para pahlawan masih sangat dijunjung tinggi pada saat itu. Setelah usaha penjajahan diredam, persatuan mulai mendapat rintangan kembali. Salah satunya pelaksanaan demokrasi yang tidak sesuai dengan aturan.

Pada tahun 1959-1966 barulah dimulai pelaksanaan demokrasi terpimpin atau biasa disebut sebagai masa Orde Lama. Demokrasi ini tidak dalam kekuasaan rakyat, tapi ada pada kekuasaan presiden yang menjabat kala itu, yakni Ir. Soekarno.

Ir. Soekarno menggabungkan paham nasionalis, agama, serta komunis (NASAKOM) yang pada akhirnya tidak cocok dengan NKRI. Hal tersebut dibuktikan dengan merosotnya sebagian moral masyarakat yang tidak lagi berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Akibatnya mereka kembali berusaha untuk mengganti ideologi negara.

Akhirnya pada tanggal 30 September 1965, terjadi kembali pemberontakan oleh PKI yang digawangi oleh D.N. Aidit. Gerakan protes ini bertujuan untuk mengganti dasar Pancasila dengan ideologi komunis. Pemberontakan ini berakhir dengan penghilangan nyawa para pahlawan bangsa.  

Terlepas dari semua hambatan tersebut, Pancasila akhirnya disahkan sebagai dasar negara dalam sidang PPKI. Untuk itulah kita harus memahami bagaimana penerapan Pancasila sebagai dasar negara pada masa awal kemerdekaan. Terlebih banyak rintangan dan pertumpahan darah yang harus dihadapi bangsa Indonesia demi mewujudkannya.


Memahami Sejarah Bangsa Indonesia dengan Berlangganan Paket Khusus Pelajar, Pengajar, dan Jurnalis dari IndiHome

Mempelajari sejarah bangsa Indonesia tak akan ada habisnya. Namun, hal itu tetap perlu digali demi memahami bagaimana para pahlawan bangsa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara hingga saat ini.

Meski sejarah tanah air kita ini panjang, Kamu tetap bisa mempelajarinya dengan cara yang menyenangkan, kok. Apalagi bila berlangganan Paket Khusus Pelajar, Pengajar, dan Jurnalis dari IndiHome. Ditemani jaringan anti lelet dan stabil dengan pilihan kecepatan hingga 30 Mbps, Kamu bisa mempelajari berbagai konten edukatif menarik yang akan memperkaya wawasan Kamu terkait bumi pertiwi ini.

Kamu pun akan mendapatkan berbagai benefit menarik lainnya seperti gratis nelpon, bebas akses aplikasi Pijar Belajar, plus, nonton tayangan edukatif dan inspiratif di puluhan channel TV pilihan sepuasnya.

Paket Khusus Pelajar, Pengajar, dan Jurnalis dari IndiHome hadir dalam dua opsi berikut:

 

  • Paket 2P (Internet + Phone)
    Nikmati internetan di jaringan super ngebut IndiHome berkecepatan 20 Mbps - 30 Mbps dengan biaya berlangganan mulai dari Rp255.000 per bulan. Terdapat juga benefit lainnya berupa gratis nelpon lokal/interlokal hingga 50 menit serta bebas akses konten edukatif sepuasnya melalui aplikasi Pijar Belajar.

 

  • Paket 3P (Internet + TV + Phone)
    Saatnya internetan di jaringan anti lemot IndiHome berkecepatan 20 Mbps - 30 Mbps dengan biaya berlangganan mulai dari Rp300.000 per bulan. Selain itu, Kamu pun akan mendapatkan akses sepuasnya ke aplikasi Pijar Belajar yang berisi beragam konten edukatif dan inspiratif.

    Jangan lewatkan juga benefit lain yang bisa Kamu nikmati seperti gratis nelpon lokal/interlokal hingga 50 menit dan tontonan menarik di puluhan channel TV unggulan untuk memperkaya wawasan Kamu.

Belajar sejarah kemerdekaan makin menyenangkan dan bebas hambatan dengan berlangganan Paket Khusus Pelajar, Pengajar, dan Jurnalis dari IndiHome. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, langganan sekarang juga!